www.lacakberita.id – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memiliki target ambisius untuk pertumbuhan kredit pada tahun 2026 di kisaran 9-10 persen. Target tersebut dinilai sejalan dengan proyeksi Bank Indonesia yang menyebutkan angka pertumbuhan kredit akan berada pada rentang 8-12 persen. Hal ini menunjukkan keyakinan BCA dalam menghadapi tantangan perekonomian global yang penuh ketidakpastian.
David Sumual, Chief Economist BCA, menyatakan bahwa pencapaian target tersebut bergantung pada perputaran uang yang efektif dalam perekonomian. Uang primer, yang seringkali berubah menjadi uang beredar yang lebih luas, menjadi kunci utama dalam mendukung pertumbuhan kredit dan mendorong pemulihan ekonomi nasional.
Dalam acara Bincang Bareng BCA di Jakarta, David memaparkan berbagai hal mengenai pentingnya transformasi uang primer menjadi komponen uang beredar yang lebih luas. Proses tersebut dapat meningkatkan likuiditas dan memudahkan akses masyarakat terhadap kredit, yang pada gilirannya dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi.
Pentingnya Perputaran Uang dalam Mendorong Pertumbuhan Kredit
Keberhasilan untuk mencapai target pertumbuhan kredit yang sudah ditetapkan oleh BCA terletak pada kemampuan untuk mewujudkan perputaran uang yang sehat di masyarakat. Setiap rupiah yang disimpan harus dapat berfungsi sebagai modal yang bergerak dalam ekonomi, bukan hanya sekadar menumpuk dalam bentuk uang tunai.
David menjelaskan bahwa untuk mencapai pertumbuhan yang diharapkan, uang primer (M0) harus dapat bertransformasi menjadi uang beredar yang lebih luas, seperti M1, M2, dan M3. M1 mencakup uang kartal dan uang giral, sedangkan M2, yang lebih luas, menyertakan tabungan dan simpanan berjangka.
Lebih lanjut, M3 mencakup deposito berjangka besar serta aset yang kurang likuid. Ketika uang tidak berfungsi secara optimal atau hanya terakumulasi dalam bentuk M0, dampaknya akan terasa pada perlambatan industri, serta menghambat pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Kesimpulan dari Proyeksi Pertumbuhan Kredit BCA
Penting untuk dipahami bahwa pencapaian pertumbuhan kredit tidak semata-mata bergantung pada ketersediaan uang, tetapi juga kepada perilaku ekonomi masyarakat. Jika uang hanya berkumpul dalam bentuk M0 dan tidak diteruskan ke dalam bentuk kredit, maka tren pertumbuhan yang diharapkan akan sulit terwujud.
David menekankan, jika uang yang hanya menumpuk tidak berpengaruh pada sektor ekonomi lainnya, maka perputaran ekonomi akan terhenti. Hal ini mampu berdampak buruk pada sektor riil yang sangat membutuhkan aliran dana dalam bentuk kredit untuk investasi dan pengembangan.
Dengan demikian, langkah-langkah strategis perlu diambil untuk mendorong pergeseran uang dari M0 ke M1, M2, dan M3 dalam konteks perekonomian yang lebih luas. Upaya ini akan memastikan bahwa sektor bank dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam pertumbuhan ekonomi.
Manfaat dari Efisiensi Ekonomi untuk Masyarakat
Efisiensi ekonomi yang dicapai melalui perputaran uang yang baik akan memberikan manfaat berlipat ganda, tidak hanya bagi bank tetapi juga bagi masyarakat secara umum. Masyarakat akan mendapatkan akses lebih mudah ke kredit yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan, seperti pembelian rumah, pendidikan, atau modal usaha.
Ketika masyarakat mendapatkan kemudahan dalam mengakses kredit, hal ini akan mendorong daya beli dan meningkatkan konsumsi. Sebaliknya, jika kredit sulit didapat, maka daya beli akan tertekan, dan pertumbuhan ekonomi menjadi terhambat.
David mengingatkan bahwa sektor perbankan perlu bekerja sama dengan pemerintah dalam menciptakan kebijakan yang mendukung perputaran uang yang sehat dalam masyarakat. Hal ini dapat dilakukan melalui berbagai program edukasi dan promosi yang menjelaskan manfaat dari penggunaan kredit secara bijak.
Oleh karena itu, untuk mencapai proyeksi pertumbuhan kredit yang diinginkan, BCA bersama pemangku kepentingan lainnya harus memastikan adanya sinergi dalam perekonomian. Terjalinnya kerjasama antara bank dan masyarakat akan membantu menciptakan kondisi yang lebih stabil untuk pertumbuhan kredit.


